Vive et Perge
“Hiduplah dan teruskan”
Kalimat dari seorang dokter spesialis jantung saat memeriksa kondisi kesehatan Nara. Syukurlah, Ia tak bermasalah sama sekali dengan kondisi jantung. Akhir-akhir ini kondisi kesehatannya sedikit menurun karena sering melamun memikirkan Andreas, kekasih yang harus segera ia lupakan. Disebut clinical judgment, ketika seorang dokter mampu menebak gangguan yang sebenarnya sedang dialami seorang pasien. Ketika semua tampak aman, namun pasien merasa tidak baik-baik saja, maka disanalah insting tersebut bekerja.
“Kamu mikirin dia terus ya, Nar?” ucap Claudia, sahabat Nara.
“I am trying to forget him, and trying to not think about him anymore” jawab Nara dengan tatapan yang lesu.
“Okay, you are trying ya” balas Claudia dengan singkat pula. Namun dengan format bold.
“Hmmm” balasnya singkat.
“Memikirkan seseorang secara berlebihan itu membuat kondisi jantung menjadi lebih terpompa. Pikiran mampu memicu lonjakan adrenalin, mempercepat denyut, membuat darah berdesir lebih deras ke seluruh tubuh. Hal ini bisa membuat kondisi kesehatanmu menjadi nggak baik, Nar! You understand that! You know that! But you do!” balas Claudia dengan singkat, padat dan menohok.
“Thanks ya” ucap Nara. Ucapan terima kasih basa-basi yang sebenarnya ia lakukan hanya agar Claudia berhenti berceramah saja. Dalam hati, Ia sudah sangat bosan dengan isi ceramah. Dalama bentuk apa pun.
Perasaan yang sedang dialami oleh Nara memang sangat rumit. Kondisi hubungannya dengan Andreas sedang tarik ulur. Nara meminta jeda atas hubungannya. Namun ternyata “jeda” itu ia nikmati sampai akhir. Ia menikmati jeda hubungannya dengan Andreas tanpa ada rasa sedih dan tangis. Entahlah, apakah sudah tak ada lagi rasa cinta? Hanya mereka berdua yang tahu dan merasakan.
“Do they forget each other?”
Mungkin iya.
Ulang tahun Nara tanggal 25 Desember berlalu begitu saja tanpa ucapan “selamat” kepadanya. Entah apa yang terjadi dengan Andreas sehingga ia begitu saja melupakan dan mengabaikan ulang tahun kekasihnya sendiri. But wait, Andreas mungkin sudah menganggap Nara bukan kekasihnya lagi. They are just done.
Nara kembali ke ruangannya. Sebagai dokter spesialis anak di rumah sakit provinsi, jadwal pun cukup padat. Untung saja dia menjadi salah satu dokter yang paling sibuk di provinsi tersebut, karena berkat kesibukan tersebut, perhatiannya menjadi lebih teralihkan. Perhatiannya tidak selalu fokus untuk memikirkan tentang Andreas.
“Am I wrong?”
“Apakah Aku kurang?”
“But which part?”
Kalimat-kalimat melemahkan itu seolah berkeliling di kepalanya. Dan benar, tenaganya menjadi semakin terkuras karena memikirkan perasaan-perasaan tersebut. “Rasa tak dicintai” lagi itu merembet ke seluruh aliran darahnya. Pikirannya menjadi kalut dan tak karuan. Wajah satu orang laki-laki itu benar-benar membuat pikirannya menjadi benar-benar kacau.
Dulu, saat Nara dan Andreas sama-sama kuliah di Belanda, lelaki itu benar-benar jatuh cinta kepadanya. Andres melakukan segalanya demi rasa cintanya kepada Nara. Jika kamu pernah melihat sinetron ala anak remaja yang melakukan segala macam hal konyol demi mendapatkan hati kekasihnya, hal itu pun terjadi pada kisah percintaan Nara dan Andreas. Saat Andreas rela mencari tangga agar bisa naik ke lantai dua penginapan mahasiswa University of Amsterdam (UvA). Bahkan Andreas rela menyamar jadi wanita agar bisa menyusup masuk ke ruangan Nara. Saat itu, Nara benar-benar dicintai hingga “nekat”.
Diperjuangkan itu menyenangkan. Dicintai itu sangat melegakan. Dikejar-kejar itu rasanya sungguh nikmat. Dan itulah rasa-rasa yang pernah dialami oleh Nara, saat seorang Andreas benar-benar masih mencintainya. Dan apa perasaan yang paling tidak menyenangkan sekarang? Saat kita tahu bahwa orang yang dulu pernah mengejar, kini justru mulai menjauh. Pergi dan bahkan hilang.
Nara mematung dengan tatapan kosong melihat kerangka anatomi. Tulang-tulang yang bergantungan itu seolah hidup dan mengejek nasibnya yang begitu sial. Dulu dia sangat bahagia, sekarang takdir melemparnya pada sisi kehidupan yang berbeda. Nara terpuruk dan terjatuh saat seorang pria yang amat dicintainya memilih untuk tidak mendekat kembali.
“How are you there, Andreas?”
“Don’t you miss me there?”
“Apa iya, kamu nggak pernah pegang ponsel sama sekali dan berusaha untuk kepoin Aku lagi?”
Kalimat-kalimat itu menari-menari di dalam kepalanya. Jam dinding seolah berdetak cepat di saat detak jantung seolah melambat karena ingin mati namun masih sungkan. Nara ingin melihat Andreas berjuang kembali mengejarnya. Namun Andreas tampaknya sudah lelah dan bosan dengan hubungannya. Andreas telah memiliki hidup yang baru dan bahkan mungkin telah menemukan pasangan hidupnya yang baru. Jika itu memang benar, biarkan saja. Tapi Nara tak perlu tahu akan hal itu.
Terkadang, memilih untuk tidak peduli dan tahu mengenai keadaan seseorang yang amat dicintai itu adalah pilihan yang tepat. When you stop asking, hidup mu justru akan lebih baik dan tenang. Dituntut untuk selalu menjawab “mengapa” itu justru akan membuat hati menjadi selalu gelisah. Jika hidupmu ingin aman, maka berhentilah bertanya. Jalan lah ke depan dengan mata buta dan telinga tuli. Kadang menjadi seperti itu sangat penting.
“I’ll be fine without him! Semua akan baik-baik saja!” ucapnya dalam hati, sambil meneguk dua botol air mineral di atas mejanya.
“Andreas! Bisakah kamu kembali ke pelukan ku? Aku benar-benar masih sangat mencintaimu. Namun aku ingin kamu berjuang kembali terhadapku. Aku rindu kamu yang dulu, kembalilah sayang”.
Lah! Katanya enggak apa-apa hidup tanpa Andreas, kenapa sekarang malah menginginkan Andreas untuk kembali? Dan begitulah perasaan. Banyak kalimat-kalimat di bumi yang begitu sukar untuk menjelaskannya.
Nara menutup mata. Jika esok Ia tak bangun kembali, mungkin tak masalah. Karena hidup tanpa Andreas, sepertinya sudah sia-sia. Saat Andreas hilang, lembaran novel dalam hidupnya sudah seperti mencapai halaman terakhir. Sudah tidak ada cerita lagi. Sudah tak ada kisah romantis lagi. Semua sudah berakhir. Tanpa penjelasan.
“Hiduplah dan teruskan!”, suara bisikan seorang lelaki membangunkan lamunannya. Baru saja ingin mengikhlaskan diri, Tuhan malah memintanya melanjutkan hidup kembali. Seorang dokter pria berkacamata di depannya itu kini tersenyum seolah ada senyum yang bisa memeluk seseorang.
