Ego et Désir
Awal perkenalan mereka berawal dari bangku SMA. Saat mereka sama-sama baru memahami apa itu rumus integral. Di usia ketika sebagian besar temannya masih sibuk mencari jati diri, mereka justru sibuk mengejar mimpi yang terlalu besar untuk ukuran anak seusia itu. Alexa adalah peserta didik yang selalu berada di tiga besar, sementara Ariko tidak pernah rela namanya berada satu tingkat di bawah siapa pun. Mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan, dibesarkan dengan cara yang berbeda, tetapi dengan satu kesamaan: keyakinan bahwa hidup harus dimenangkan dengan kerja keras dan prestasi.
“Jangan pernah nyerah ya, Ko” ucap Lexa setiap hari.
“Pasti!” balas Ariko dengan tegas dan mantap.
Pertemuan mereka bukan dimulai oleh kisah yang manis atau kebetulan yang romantis. Mereka bertemu sebagai dua orang yang saling mengagumi kemampuan satu sama lain, sekaligus diam-diam menjadikan yang lain sebagai standar yang harus dilampaui. Saat teman-teman lain menghabiskan waktu membicarakan film dan musik terbaru, mereka lebih sering memperdebatkan rumus, membandingkan nilai ujian dan berbicara tentang universitas-universitas terbaik yang ingin mereka taklukkan.
Tidak ada yang lebih menarik bagi Ariko selain melihat sorot mata Alexa ketika berbicara tentang masa depan. Ada ambisi yang sama yang menyala di sana. Mereka berdua tahu bahwa dunia terlalu luas untuk dijalani dengan biasa-biasa saja. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, justru karena kesamaan itulah yang membuat mereka berdua semakin merekat.
Mereka tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka tumbuh bersama sebagai dua orang yang sama-sama keras kepala, sama-sama terbiasa menang dan sama-sama percaya bahwa takdir adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, bukan sekadar ditunggu. Dan dari bangku-bangku kayu di ruang kelas itu, di antara lembaran soal integral dan tumpukan buku persiapan olimpiade, sebuah kisah panjang perlahan mulai ditulis. Bukan kisah tentang dua orang yang saling melengkapi, melainkan kisah tentang dua orang yang sama-sama ingin menaklukkan dunia tanpa pernah menyadari bahwa suatu hari, dunia justru akan menguji apakah mereka masih mampu berjalan berdampingan.
“Besok aku jadi dokter!”
“Aku juga, sama!”
“Harus banget ngikut cita-cita Aku?”
“Iya, emang kenapa?” balasnya dengan lesung pipi yang manis.
Ya, saat mereka berdua sama-sama berambisi untuk menjadi dokter. Dan sekarang sudah sama-sama menjadi dokter. Namun sayang, cita-cita itulah yang membuat mereka harus berjarak dan akhirnya memutuskan untuk membeku tanpa kepastian.
“Kamu pulang jam segini lagi, Ko?”
“Ada pasien kritis. Aku nggak bisa ninggalin ruang ICU begitu saja, Xa”
“Aku juga dokter, Ko. Aku paham soal pasien. Tapi tiga minggu terakhir kita bahkan nggak sempat makan malam bersama. Do we forget it?” balasnya lesu namun seperti berusaha dikuatkan.
“Jadi sekarang aku salah karena menyelamatkan pasien?” sahutnya kembali.
“Jangan dibalik. Yang dipersoalkan bukan pekerjaanmu, tapi caramu mengabaikan hubungan kita ini” nada suara itu berusaha keras untuk menjelaskan agar tak terjadi salah paham.
“Mengabaikan? Aku bekerja enam belas jam sehari buat masa depan kita” balasnya lagi.
“Masa depan yang mana? Yang bahkan nggak pernah kita bicarakan lagi?” nada suara itu mulai meninggi, namun masih tetap terkontrol pada garis-garis emosi yang wajar.
“Aku capek, Xa. Setiap kita ketemuan, selalu saja disambut tuntutan”
“Dan aku capek selalu menjadi prioritas terakhir.” balasnya lagi.
“Kamu tahu rumah sakit sedang kekurangan konsulen. Semua orang lembur” balasnya lembut, menurunkan nada suara lebih rendah lagi.
“Aku juga lembur. Tapi aku masih berusaha meneleponmu. Aku masih berusaha hadir dalam hidupmu”
“Karena jadwalmu lebih ringan dari jadwalku” celetkunya ringan.
“Jadi sekarang pekerjaanku dianggap lebih ringan?” nadanya mulai meninggi.
“Aku nggak bilang begitu” tampak mulai panik.
“Tapi itu yang kamu maksud” ucapan itu sudah mulai membakar emosi.
“Yang aku maksud, kamu nggak tahu tekanan yang aku hadapi” balasnya kembali lembut.
“Lucu sekali. Kita sama-sama dokter, tapi setiap kali aku bicara tentang perasaanku, kamu selalu bertindak seolah hanya kamu yang mengerti tekanan.”
“Karena akhir-akhir ini kamu hanya melihat apa yang kurang dariku”
“Karena akhir-akhir ini hanya itu yang tersisa untuk dilihat”
(Hening beberapa detik.)
“Jadi apa maumu?”
“Aku ingin pasangan, bukan sekadar nama di kontak darurat”
“Dan aku ingin seseorang yang mengerti bahwa ada nyawa yang bergantung padaku”
“Aku mengerti. Yang tidak aku mengerti adalah kenapa aku harus terus kehilanganmu demi semua orang lain”
“Karena kadang dokter tidak punya pilihan”
“Tidak, Ko. Kita selalu punya pilihan. Kamu hanya terus memilih mereka dibanding aku.
(Ariko terdiam. Alexa menahan air mata.)
“Yang paling menyakitkan bukan karena kamu sibuk”
“Lalu?”
“Karena aku mulai terbiasa hidup tanpa kamu. Dan itu membuatku takut.”
Ruangan bercat putih itu hening.
Dan sejak percakapan itu, tidak ada pertengkaran lagi. Bukan karena sudah akur, namun karena mereka memilih untuk mengevaluasi diri masing-masing dalam diam.
Alexa dan Ariko memilih jalur diam dan mencari obat penyembuh dengan cara diam dan mendiamkan pasangan masing-masing. Mereka memilih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Melampiaskan kemarahan sendiri pada pasien masing-masing. Mereka tidak saling sahut lagi, tidak saling memarahi masing-masing lagi, namun justru ini yang lebih bahaya dari sebuah peperangan terbuka.
Pada bangunan rumah sakit yang sama, perasaan itu sudah mulai berbeda. Meski dalam satu bangunan, mereka tidak pernah sama sekali papasan atau pun bertemu, bahkan secara kebetulan pun tidak pernah. Kali ini, takdir pun sepakat untuk melihat mereka berdua berpisah.
Hingga hampir ratusan jam mereka lalui tanpa ciuman dan pelukan lagi, mereka berdua tetap keras kepala menahan ego masing-masing untuk tidak menyatakan rindu dan kangen. Mereka memilih diam dan menyimpan rasa dendam atas rasa sayang masing-masing. Mereka masih sangat saling mencintai, masih pula saling merindukan satu sama lain. Namun hingga saat ini, mereka berdua memilih untuk terus menjauh tanpa mencari. Padahal, dari hati terdalam masing-masing, mereka sudah lelah menangis setiap malam karena saling merindukan satu sama lain. Mereka hanya gengsi. Mereka hanya sedang termakan ego masing-masing. Mereka akan selalu saling mencintai. Bukan rasa dan cintanya yang kandas, tapi komunikasinya yang lepas.