Le Ciel Sombre



Dan mungkin begitulah cinta yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap tinggal dalam diam, meski sejak awal sudah ditetapkan untuk berjalan berdampingan tanpa pernah bertemu pada satu titik yang sama. Seperti kenangan yang tertinggal di antara desir angin pantai dan suara ombak yang pernah menjadi saksi, bukan di Sydney, melainkan di Senggigi, tempat di mana aku dan kamu pernah saling mendekap dengan hangat.


    Di tepi laut itu, ketika air mata bercampur dengan gerimis dan debur ombak yang tak henti berbicara, rangkaian kalimat ini tiba-tiba memenuhi pikiranku. Satu per satu ku susun menjadi sebuah tulisan yang mungkin suatu hari nanti akan sampai kepadamu. Semoga saat itu belum terlambat.


    Aku percaya bahwa kita berasal dari cerita yang ditulis oleh tangan yang sama. Kita dibentuk oleh warna kehidupan yang hampir serupa, tumbuh dalam arah yang sama, dan dipertemukan oleh banyak kesamaan yang sulit dijelaskan. Namun anehnya, takdir justru menjadikan kita dua jiwa yang saling mengenal begitu dekat, tetapi tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk saling memiliki.

Di saat Aku bingung, mungkin Tuhan sedang tertawa. 


“I miss you more than words can tell.”


    Kita seperti dua burung yang menari di bawah langit yang sama. Terbang mengikuti arah angin yang serupa, mengejar cahaya senja yang sama. Dari kejauhan, siapa pun mungkin akan mengira bahwa kita memang diciptakan untuk berjalan berdampingan selamanya. Namun kehidupan memiliki aturan yang tidak selalu bisa dipahami. Kita boleh berbagi cerita, berbagi mimpi, bahkan berbagi rasa, tetapi tidak selalu diberi kesempatan untuk berbagi masa depan yang sama. Meski dulu aku pernah teriak ini di bawah Eiffel,


“I am your now and your future!”


    Di dalam dirimu, aku menemukan refleksi yang begitu akrab. Bukan karena kita identik, melainkan karena ada bagian dari dirimu yang terasa seperti rumah yang selama ini kucari. Setiap percakapan yang kita bangun, setiap tawa yang kita bagi, bahkan setiap keheningan yang hadir di antara kita, membuatku merasa bahwa semesta pernah menyusun kita dari pola yang hampir sama.


“You have always been special to me.”

“I remember the way you kissed me!”


    Tetapi kenyataan berdiri di antara kita seperti dua garis sejajar yang berjalan ke arah yang sama tanpa pernah bersentuhan. Kita bisa saling melihat dengan jelas, memahami satu sama lain tanpa banyak kata, bahkan saling menguatkan ketika dunia terasa berat. Namun tetap saja ada batas yang tidak dapat kita lampaui. Ada kehendak yang lebih besar dari sekadar keinginan manusia.


    Jika suatu saat kau membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa kau adalah seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Kau adalah sosok yang pernah kubayangkan untuk tetap berada di sisiku ketika waktu mulai mengubah warna rambut dan memperlambat langkah kaki. Jika hidup tidak memiliki begitu banyak batas. Jika keadaan tidak memaksa kita memilih jalan yang berbeda. Jika segala sesuatu dapat berjalan sesuai dengan isi hati, mungkin aku akan memilihmu tanpa perlu berpikir dua kali.


    Bukan berarti aku menolak kenyataan. Aku hanya tidak mampu mengingkari apa yang kurasakan. Ada keinginan untuk berjalan bersamamu melewati berbagai musim kehidupan, menyimpan cerita-cerita kecil yang kelak bisa dikenang dan menempatkan namamu dalam doa-doa yang kupanjatkan diam-diam.


“Someday, can we return to those beautiful places again? Paris, perhaps. Or England.”

“Or, going back to Sydney?”


Namun cinta tidak selalu berakhir dengan kepemilikan.


    Karena itu aku memilih mencintaimu seperti laut yang mencintai garis pantainya. Selalu dekat, selalu saling menyentuh, namun tetap memiliki batas yang tidak bisa dihapuskan. Dalam ruang yang tidak dapat kita menangkan, aku tetap menyimpan namamu dengan tenang. Dalam jarak yang tidak bisa kutaklukkan, aku menjaga perasaan ini agar tidak berubah menjadi kebencian.


    Mungkin suatu hari nanti aku akan menerima sepenuhnya bahwa tidak semua cerita ditulis untuk memiliki akhir yang kita harapkan. Akan tiba waktunya ketika tangan yang menggenggam tanganmu bukan lagi tanganku. Akan ada masa ketika kisah kita hanya menjadi bagian dari kenangan yang tersimpan rapi di lembar-lembar kehidupan yang telah berlalu.


Tetapi bahkan ketika hari itu benar-benar datang, ada satu hal yang akan tetap sama.


“I will always carry a piece of you in my heart.”

“Dan maaf, dalam hati kecilku, kau mungkin akan selalu menjadi ‘sayang’.”


    Aku akan tetap mengenangmu sebagai bagian terindah dari perjalanan hidupku. Sebagai seseorang yang pernah membuat dunia terasa lebih hangat. Sebagai cermin yang memperlihatkan diriku dengan cara yang paling jujur. Dan sebagai cinta yang tidak pernah benar-benar menghilang, meski sejak awal telah ditakdirkan untuk berjalan berdampingan tanpa pernah bertemu pada satu persimpangan.


“I miss you so much! Bring me back to Melbourne!”

“Or maybe, Poland! Every corner is a memory, especially the snow and the first kiss”. 


Ah damn! I can’t write. 

I miss you, that’s the point!