Tu Me Manques

 

Nara menatap foto Abingail dengan tajam. Pria yang sudah menemani hidupnya selama 12 tahun, pria yang selalu berada pada masa-masa kesulitannya. Abingail Thomas Warawangsa, lelaki penyabar yang selalu memberikan ruang yang sangat luas dari setiap rasa egois yang ia miliki. Sosok pria berkacamata yang tidak akan pernah ia temui di belahan dunia lainnya. 

“Bing, Aku benar-benar merindukanmu dari ujung kaki hingga ujung kepala” teriak hatinya. Rasa rindunya sudah seperti ombak tsunami yang menggeliat menghantam pasir. 

Hati yang sudah benar-benar tak tahan menyimpan seluruh gejolak perasaan atas rasa cinta buta yang telah tersimpan bertahun-tahun. Abingail pergi begitu saja, seperti sudah lelah dan muak dengan kondisi hubungannya bersama Nara. Tak ada yang lebih perih daripada ditinggalkan oleh sandaran kita sendiri bukan? Apalagi sandaran satu-satunya. 

Sekali lagi, Nara menatap foto pria itu dalam arsip Instagramnya. Foto bersama di pantai Senggigi Lombok, Bali, Jerman, Swedia, Australia, Amerika, Prancis, Belanda dan Polandia yang begitu penuh kenangan. Wajah Abingail yang begitu manis di bawah terpaan salju, sekali lagi membuatnya berurai air mata. Di bawah salju itulah pertama kali cinta itu mulai diungkapkan oleh Abingail.   

“Bing, Aku kangen. I can’t stop to think about you

“Bing! Please come back to me!”

Satu kalimat yang singkat, namun ingin menceritakan banyak hal tentang suatu kerinduan yang sudah tak bisa ditahan. 

Nara merindukan pria itu. Setiap kali ia melihat pintu, berharap bahwa itu adalah Abingail yang tiba-tiba datang memberikan kejutan. Datang tiba-tiba dengan tatapan manja adalah hal yang selalu dia tunggu beberapa bulan ini. Namun sayang, semua absen. Bukan Abingail yang datang, tapi pasien selanjutnya. 

“Dok, tinggal 7 pasien lagi ya. Mau lanjut atau kita serahkan ke dokter Raisa saja?” ucap seorang asisten dokter bernama Maria. 

“Kita selesaikan saja! Don’t let them wait too long” balas Nara dengan senyum getir. 

“Yakin dok?” balas Maria dengan nada berusaha menyakinkan diri sendiri. 

“Seratus persen yakin!” jawaban tegas dari Nara Waluya Hardiyatmaja. 

Dan seperti biasa. Hari-harinya dipenuhi oleh pasien-pasien yang selalu menuntut untuk diberikan sembuh. Selalu ada bahagia dibalik kesembuhan orang lain, apalagi ketika tuhan menitipkan sembuh melalui tangan seorang dokter bernama Nara, dokter spesialis anak yang dikenal seantero kota Mataram. 

Menyembuhkan orang lain, di saat diri sendiri masih dalam keadan sakit. Bukan raga, namun hati. Tapi sama saja bukan? Perasaan yang terpukul toh akan berimbas pula kepada kesehatan fisik. Ya begitulah keadaan Nara, saat pria yang sangat dia cintai memilih untuk pergi dan meninggalkannya. Masih mencintai, namun harus ditinggali. 

—-Mati Satu Tak Tumbuh Lagu - Barsena Bestandhi—- menjadi pengiring suasana hatinya yang semakin kalut tanpa makna. Ia ibarat sebuah lagu tanpa lirik, hanya lantunan instrumen yang berjalan pelan di saat hampa dan berteriak keras ketika hatinya telah muak menelan pil pahit kehidupan. 

Shit! Why should I love him really much!” batinnya dengan kasar kepada hatinya sendiri. 

Hidup bagai pecahan kaca, terdiri dari puing-puing yang berantakan, kemudian disatukan kembali. Hidup bisa normal kembali, namun jika satu puing itu hilang, tetap juga tak menjadi satu cangkir yang utuh. Sudah retak, eh malah ada puing yang hilang. Makin berantakan gak tuh!

Nara menangis, namun dalam diamnya. Air matanya telah habis, semua telah kering. Organ tubuhnya sudah tak mampu memproduksi air mata lagi. Satu lelaki telah menghabiskannya. Serasa ditinggalkan oleh ruh sendiri, padahal yang pergi  hanyalah seorang manusia yang mungkin bisa digantikan lagi. Meski memang tak mudah. 

I think that finding a new one for you would change everything, Nar!” Ucap Laras, sahabatnya dengan berusaha memberikan solusi.   

“....” tak ada jawaban dari Nara. Pertanyaan itu adalah sebuah template yang pasti akan dikeluarkan oleh siapa pun yang sedang melihat sahabatnya sendiri sedang berduka karena masih terfokus dengan satu orang saja. 

I know it’s not easy, of course I know!” serempet Laras dengan cepat. Karena dia pasti tahu isi pikiran sahabatnya sendiri. 

Easy for me to find someone better! But the memory? Semua memori tentang Abingail tidak akan pernah hilang, Ras! And the shit is, that memory is always coming on me. Memori itu selalu menampar ku setiap saat! Aku muak, Ras!” ucapnya dengan suara napas terputus-putus. 

Susah! Dan memang susah menenangkan orang yang sedang patah hati dan menunggu kepastian dari orang lain. Nara seperti perahu yang terombang-ambing di tengah lautan lepas. Ia bisa saja menepi dan mencari penumpang baru, namun ia memilih bertahan di tengah laut, menunggu orang yang dicintainya untuk datang menjemput. Meski hingga saat ini, tak ada satupun sinyal jika Abingail akan datang. 

Awan di langit menjadi sahabat setia untuk diajak berbincang-bincang untuk urusan duniawi. Nara meneteskan air mata di saat kenangan tentang Abingail menerpa ingatannya. Hidupnya seolah-olah porak poranda ditinggali oleh kekasih hidupnya. 

“Richi kurangnya apa sih, Nar?” Ucap Laras secara spontan di tengah nafas yang tengah tersengal-sengal berlari di hutan kota.

Nothing!”

So what? Why not him? He was waiting for too long! 8 tahun loh!” ucap Laras dengan antusias. Di dalam benaknya, ia hanya ingin sahabatnya lepas dari masa lalu. 

He is so perfect!”

So what then? Kamu cari yang enggak perfect?

“Aku nggak cari siapa-siapa Ras! Aku punya Abingail! He’s enough!”

But he’s not here. He’s not for you. Bisakah kita maju ke halaman berikutnya?” balas Laras mulai sedikit keras. 

“Aku sudah maju, Ras!” balasnya

I know! Tapi kamu maju dengan membawa kenangan masa lalu! Kan percuma”

He’s not my past. He’s still my present!”

“Bagi kamu iya. Tapi bagi dia, you are only the past! Pahami itu!” ucap Laras sambil mempercepat larinya meninggalkan Nara yang sedang berperang dengan nafasnya sendiri. 

—Things will get better - Agnes Monica—-- yang sedang berdengung keras di telinganya seketika buyar. She’s not going better for anything. Nara harusnya sadar, bahwa apa yang disampaikan oleh Laras mungkin saja benar. Atau bahkan seratus persen benar. Namun ia sendiri yang selalu menolak itu semua. Nara bisa sembuh, dan memang punya pilihan untuk sembuh. Namun ia selalu memilih untuk terluka. Dan beginilah jadinya. 

Ada banyak rasa yang harus dikubur. Namun banyak orang yang memilih memelihara kuburan kesedihan itu sendiri. Mereka menangis terlalu lama, hingga lupa bahwa hidup harus tetap berjalan. Awan selalu memberikan pelangi setelah hujan, bukankah itu adalah sebuah pelajaran kepada hidup bahwa setiap sedih, maka akan selalu ada kebahagiaan. 

Bip… Bip… Bip…

“Nar! Apapun yang terjadi pada hidupmu, Aku akan selalu siap untuk dirimu. Aku akan selalu bisa menjadi tempat pulangmu. Lampu rumah ku tetap menyala untuk mu. Kembalilah kepadaku, dikala kamu sudah sia. Di saat kamu benar-benar siap”


Duar!

Hatinya remuk. Pesan dari Richie Leonard Kusuma, kali ini benar-benar menampar pipinya. Nara terdiam, kemudian meneteskan air mata. 

“Tuhan! Aku minta Abingail untuk kembali sebagai bagian dari doaku!” 

“Bing! Lekas kembali ya!” 

Matanya melemah. Kinerja otaknya merosot padam. Ia tiba-tiba terlelap dalam tidurnya bersama awan yang mendung. Mungkin tertidur lebih baik. Daripada hidup, namun Abingal tak pernah ada lagi dalam sisinya.